PERADABAN MASA KINI BUTUH MAHASISWA SEPERTI KAMI

Era milenial begitulah sebutan era saat ini. Era milenial menjadi bagian yang tidak bisa dibantahkan dalam peradaban saat ini, dimana masyarakat harus ikut andil dan dapat menyesuaikan terhadap beberapa perubahan peradaban pada masa sebelumnya. Masyarakat tidak akan pernah lepas dari problematika jaman, begitu pula kami mahasiswa yang menjadi bagian intelektual dan penyeimbang antara masyarakat dan wakil masyarakat. Lalu problematika apakah yang menjadi fokus utama yang perlu kita tuntaskan?  dan lalu siapa aktor perubahan tersebut?

Tahun 2030 Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Bonus demografi salah satu masalah yang perlu kita hadapi bersama. Kaum intelektual pun tidak bisa diam saja, apabila begitu maka siaplah mereka akan dibumi hanguskan oleh peradaban. Usia produktif menjadi bagian positif apabila ber orientasi kepada keadaan Indonesia yang saat ini masih dalam fase negara maju, namun itu bisa menjadi masalah besar apabila tidak adanya sikap bagi pemerintah untuk dapat mendistribusikan mereka dengan bijak.

Kombinasi bonus demografi dalam menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 pun kian mencuat oleh berbagai konsumsi publik. Namun sayangnya, di tengah euforia terhadap dampak bonus demografi, kecepatan pergerakan industri 4.0 benar-benar tidak terkejar. Hal ini bahkan diakui oleh Presiden Joko Widodo dalam konferensi yang menyatakan bahwa. Kecepatan revolusi industri 4.0 betul-betul 3.000 kali lebih cepat dibandingkan revolusi industri yang pertama, inilah keterbukaan teknologi yang sulit kita cegah dan hadapi.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Mitra Karya hadir dalam menjawab persoalan tersebut. Dengan memiliki keistimewaan yang tidak banyak dimiliki oleh beberapa mahasiswa pada umumnya. Mentalitas yang tertanamkan pada kader anggota PMII pun jelas pada pondasi nilai-nilai Ke Indonesian (Asas pancasila) dan Nilai-nilai keislaman dengan paham (ahlussunah wal jamaah) yang dapat dengan luwes menyelesaikan berbagai persoalan masa kini.

Dengan berhasil mencetak mahasiswa, mahasiswa nahdiyin yang tergolong mumpuni dengan segala kemampuan dalam menghadapi persoalan jaman. Kapasitas, loyalitas dan kapabilitas nya pun siap uji, menajwab tantangan tersebut, berbagai proses pembelajaran mulai dari tingkatan formal yaitu Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (MAPABA), Pelatihan Kader Dasar (PKD), Pelatihan Kader Lanjut (PKL), lalu tingkatan terakhir Pelatihan Kader Nasional (PKN) yang mana semua pembelajaran tersebut sebagai pembekalan intelektual, uji kemapanan mental, dan kesadaran nalar menjawab tantangan peradaban. Begitu pula dengan kajian informal atau kegiatan kemasyarakatan yang tidak lepas dari pemanfaatan digitalisasi dan pengoprasian robotic. Maka jelas selama PMII masih ada, maka PMII akan menjadi garda terdepan untuk menyongsong Indonesia maju.

Terbukti selalu eksis dalam mengahadapi persoalan masa kini, begitu banyak persoalan yang sudah dihadapi mulai dari persoalan pendidikan, kesehatan, penyelewengan, agraria, kemiskinan, dan beberapa ketimpangan yang menjadi carut marutnya bangsa ini. Tantangan kemajemukan berbangsa kita terus di uji, Selama perjalanan tiga orde yang berbeda, PMII tetap berkontribusi. Kini tinggal kita pertegas bahwa disini kita masih ada dan bergerak Untuk NKRI. -ltr


Facebook


Link

share to :

Leave a Comment